Pertumbuhan ekonomi dunia dikatakan telah bergeser ke arah Tenggara benua Asia dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah, negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Indonesia dan Thailand mulai menjadi destinasi bagi para investor. Pabrik-pabrik manufaktur baru mulai “dipindahkan” dan dibangun di Asia Tenggara.

Akan tetapi, perpindahan ini juga bukan sesuatu yang mudah dan tanpa tantangan. Regulasi yang beragam dan sistem dengan standard yang kurang jelas adalah beberapa dari tantangan yang mereka hadapi pada negara-negara berkembang.

Di Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar ke-16 di dunia, infrastruktur transportasi yang kurang mumpuni dinilai sebagai sebagai salah satu hal yang menghambat tampilnya Indonesia sebagai bintang di Asia Tenggara. Kondisi yang terfragmentasi juga menyebabkan konektivitas yang buruk antara pasar di daerah urban dan rural, termasuk dalam hal pertukaran informasi.

Dari sisi supply chain, hal itu memberikan tantangan yang cukup signifikan, seperti kurangnya visibilitas dan kontrol, serta perencanaan yang tidak baik. Lebih lanjut, juga ada isu-isu lain seperti biaya logistik yang tinggi, kesulitan mengumpulkan data, informasi yang tidak akurat dan lead time yang sangat lama.

Situasi dan kondisi diatas terjadi pada berbagai jenis industri di Indonesia, termasuk industri kopi.

Dengan produksi total sebesar 268,000 metrik ton per tahun, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia, walaupun Indonesia tidak memiliki perkebunan kopi yang besar. Lebih dari 90% dari 1.24 juta hektar perkebunan kopi yang ada di Indonesia terdiri dari perkebunan-perkebunan kecil seluas 1–2 hektar yang dimiliki oleh para petani kopi.

Dengan produsen kopi yang adalah para petani yang tinggal di daerah pedesaan dan penikmat kopi yang tersebar di seluruh nusantara bahkan di seluruh dunia, supply chain kopi di Indonesia memiliki jalur distribusi yang sangat luas yang tentu saja melibatkan banyak tangan.

Seringkali yang terjadi adalah kepentingan pihak produsen dan konsumen akan dirugikan demi mengakomodasi para pemangku kepentingan yang lebih besar. Petani kopi tidak mengetahui kemana hasil kopinya pergi dan berapa harga jual akhirnya, sementara konsumen tidak bisa memastikan apakah kopi yang diminumnya benar-benar sesuai dengan klaim penjualnya.

Aplikasi teknologi blockchain pada supply chain kopi memungkinkan petani kopi untuk mengetahui kemana bijih kopinya dikirim beserta harga jual akhirnya. Konsumen juga dengan mudah dapat melihat asal muasal dari minuman kopi yang dinikmatinya hanya dengan memindai QR code yang ada di cup kopi mereka.

Banyak yang meyakini bahwa teknologi blockchain yang bersifat terdesentralisasi, transparan dan anti manipulasi akan menjadi jawaban dari permasalahan supply chain di negara berkembang seperti Indonesia. Kemampuan traceability yang dimiliki oleh blockchain dikatakan sangat relevan dengan industri supply chain. Traceability akan meminimalisir manipulasi dan kurangnya visibilitas yang ada, bahkan mengurangi biaya operasional yang disebabkan perencanaan yang tidak baik.

Penerapan teknologi ini tentunya dapat sangat membantu mengingat pertumbuhan industri kopi Indonesia diperkirakan sebesar 11.4% sepanjang 2017 sampai 2021, yang merupakan pertumbuhan tercepat di dunia.

Tentang EMURGO

EMURGO adalah perusahaan blockchain global yang manghadirkan solusi untuk developers, startups, enterprise, dan pemerintah. EMURGO mengembangkan aplikasi dengan standard enterprise, tools untuk developer, berinvestasi di startup dan memberikan edukasi tentang teknologi blockchain. EMURGO memiliki kantor dan menangani proyek di Singapura, Jepang, Amerika Serikat, India, dan Indonesia. EMURGO adalah salah satu pendiri dari Cardano protocol.

Pelajari lebih lanjut tentang EMURGO dengan mengunjungi website resmi https://emurgo.id

Follow akun media social EMURGO Indonesia:

Twitter : http://bit.ly/EmurgotwitterId
Facebook :bit.ly/Emurgo_id
Instagram : http://bit.ly/EmurgoInstaId
Linkedin: http://bit.ly/emurgoidLinkedin